perempuan jepang memegang gelas berisi teh

Kenapa Less Sugar Drinks Kurang Populer di Jepang dan Unsweetened Drinks Justru Dominan?

Setiap negara memiliki food culture yang berbeda, termasuk Jepang. Jika kamu berkunjung ke Negeri Sakura, kamu akan dengan mudah menemukan unsweetened drink atau minuman tanpa gula di hampir semua supermarket. Berbeda dengan banyak negara lain, minuman manis justru bukan pilihan utama. Lalu, apa alasannya? Berikut penjelasannya.

Kandungan Gula Minuman Jepang dan Indonesia

Menariknya, persepsi rasa manis minuman di Indonesia dan Jepang sering kali terasa berbeda. Minuman di Indonesia umumnya dikenal memiliki profil rasa yang lebih manis, sementara di Jepang rasa manis cenderung lebih ringan. Dari beberapa penelitian, data komposisi gula menunjukkan bahwa kandungan gula minuman di Jepang dan Indonesia dapat sedikit berbeda, tergantung jenis dan kategori minumannya.

Analisis laboratorium yang dipublikasikan di Fujita Medical Journal melaporkan bahwa minuman bersoda di Jepang mengandung sekitar ±8.8 gram gula per 100 ml. Sedangkan menurut riset lain, di Indonesia, minuman berkarbonasi umumnya berada pada kisaran ±10–12 gram per 100 ml.

Perbedaan juga terlihat pada kategori minuman energi. Studi yang sama di Jepang menemukan bahwa energy drinks yang mengandung gula memiliki total gula median sekitar ±12.0 gram per 100 ml. Di Indonesia, label nutrisi berbagai produk minuman energi komersial menunjukkan kisaran yang relatif serupa, umumnya berada di sekitar ±11–14 gram per 100 ml, tergantung formulasi produk.

Pada kategori minuman teh manis, tabel komposisi gula dari Jumonji University menunjukkan bahwa minuman teh manis di Jepang umumnya berada di kisaran ±3–7 gram gula per 100 ml, sementara teh manis kemasan di Indonesia biasanya mengandung sekitar ±6–9 gram per 100 ml.

Perlu dicatat bahwa angka-angka tersebut bukan nilai rata-rata resmi, melainkan gambaran dari analisis sampel produk tertentu. Kandungan gula dapat bervariasi antar merek dan formulasi, sehingga data ini bersifat ilustratif.

Kenapa Less Sugar Drink Kurang Populer di Jepang?

Meski minuman manis tetap tersedia di Jepang, minuman tanpa gula (unsweetened drinks) justru menjadi pilihan yang lebih dominan dalam konsumsi harian. Lalu, apa yang membuat minuman less sugar kurang populer di Jepang?

1. Tingkat Kesadaran Kesehatan di Jepang Relatif Tinggi

Masyarakat Jepang cenderung memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, termasuk dalam mengontrol asupan gula harian (Japan Living Guide). Hal ini membuat konsumsi gula per kapita di Jepang tergolong rendah dibandingkan negara maju lainnya.

Menurut World Population Review, konsumsi gula masyarakat Jepang pada 2022 tercatat sekitar 28,5 kg per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan Australia yang mencapai 102,58 kg per tahun.

Menariknya, sumber utama asupan gula di Jepang bukan berasal dari minuman manis, melainkan dari nasi, biji-bijian, dan sayuran. Konsumsi gula dari minuman hanya sekitar 43–112 g per hari, sementara dari sayuran bisa mencapai 121–239 g per hari.(Fujiwara dkk 2018).

Fun fact:Jepang termasuk negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia, yaitu 87,2 tahun, dengan tingkat obesitas dewasa hanya 5,5% (WHO, 2022). Sebagai perbandingan, Indonesia memiliki harapan hidup 68,3 tahun dan tingkat obesitas dewasa 11,2% (WHO, 2022).

Baca juga: Kecanduan Gula: Penyebab, Risiko, dan Solusi

2. Akses Makanan dan Minuman Rendah Gula yang Sangat Mudah

Tingginya kesadaran akan kesehatan membuat produk less sugar hingga no sugar sangat mudah ditemukan di Jepang. Bahkan, di banyak supermarket, produk-produk ini ditempatkan di area strategis sehingga mudah diperhatikan konsumen (Japan with Nao 2024).

Penempatan ini memudahkan masyarakat untuk membaca label nutrisi dan membandingkan kadar gula sebelum membeli, sehingga keputusan konsumsi menjadi lebih sadar dan terukur.

Fun Fact: Di Jepang, label less salt justru lebih umum dibandingkan less sugar. Hal ini berkaitan dengan tingginya perhatian terhadap asupan natrium, sementara untuk minuman konsumen lebih terbiasa memilih varian unsweetened.

3. Budaya Mengapresiasi Rasa Asli Bahan Makanan

Selain faktor kesehatan, masyarakat Jepang juga dikenal sangat menghargai rasa alami bahan makanan. Oleh karena itu, orang Jepang fokus meningkatkan kualitas bahan makanan itu sendiri sehingga rasa alaminya sudah enak daripada fokus mencari bumbu-bumbu apa yang diperlukan untuk menutupi kekurangan rasa bahan alami tersebut.

Sebagai contoh daging sapi yang terkenal dengan sebutan wagyu (misalnya Kobe wagyu dan Matsusaka wagyu) sudah sangat enak dagingnya sehingga orang Jepang cukup membumbuinya dengan garam dan lada saja. Begitu pula halnya dengan kepiting terkenal Jepang (misalnya Taraba-gani dan Kegani) yang hanya dibumbui garam saja atau dibakar dengan butter garlic.

Baca juga: 5 Macam-Macam Teh dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Contoh lain adalah nasi putih Jepang yang terkenal pulen dan enak. Beberapa orang Jepang, terutama di kota kecil penghasil beras menikmati dan menghargai nikmatnya beras hasil panen terbaru hanya dengan memakan nasi putih saja tanpa lauk dan tanpa bumbu juga. Kebiasaan ini dilakukan hanya di awal proses makan, selanjutnya mereka tetap makan seperti biasa dengan lauk dan sayur. Ada juga onigiri (musubi) yang tanpa isian dan cukup dibumbui garam saja, yang dikenal dengan sebutan shio-onigiri (shio-musubi).

Ini membuktikan bahwa bahan baku yang enak dan berkualitas tinggi tidak memerlukan tambahan bumbu atau bahan penyedap lainnya.

Budaya ini juga berlaku untuk minuman tradisional Jepang. Fakta bahwa teh (terutama teh hijau) selalu diminum tanpa gula di Jepang membuktikan bahwa daun teh yang mereka gunakan memang sudah enak secara alamiah. Penambahan gula pada teh hijau dianggap merusak sesuatu yang sudah enak. Kekeliruan ini sama beratnya dengan misalnya, membumbui daging wagyu dan kepiting Jepang secara berlebihan.

oi ocha ito en botol

Nah, kalau kamu ingin menikmati teh tanpa gula dan pemanis buatan dengan rasa teh yang benar-benar asli, otentik, dan segar, kamu bisa memilih ITO EN Oi Ocha. Karena tidak manis dan 0 kalori, teh ini terasa lebih segar dan nyaman diminum kapan saja, baik saat makan maupun setelah beraktivitas.

Karena pada akhirnya, nggak semua harus manis untuk bisa dinikmati. Rasa asli justru memberi pengalaman minum teh yang lebih seimbang, ringan, dan menyegarkan, selaras dengan gaya hidup yang lebih sadar akan kesehatan.

Jangan lupa, bagikan juga artikel ini ke keluarga dan sahabatmu ya! Ikuti juga akun sosial media kami di Instagram, XTikTok, Facebook, dan YouTube ITO EN Indonesia untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai produk unggulan dari ITO EN.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *