Fenomena matcha dan teh China semakin populer di Indonesia. Dalam empat bulan setelah gerai pertamanya dibuka di Jakarta, sebuah jaringan teh premium asal China telah berkembang menjadi delapan gerai. Menu seperti matcha China, osmanthus oolong, dan racikan teh susu modern pun semakin mudah ditemukan. Kehadirannya tidak hanya menawarkan rasa baru, tetapi juga memperkenalkan cara menikmati teh yang berbeda dari tradisi Jepang.
Mengapa Matcha dan Teh China Menjamur di Indonesia?
Matcha China dan teh beraroma bunga menawarkan rasa yang terasa baru, tetapi tetap mudah dinikmati bersama susu atau pemanis. Osmanthus, misalnya, memberikan aroma bunga dan buah yang lembut sehingga dapat menjembatani rasa teh yang sepat dengan selera konsumen Indonesia.
Perbedaannya juga terlihat dari cara penyajian. Jika matcha Jepang sering menekankan kemurnian rasa dan proses pembuatannya, gerai teh China lebih banyak mengemas teh sebagai minuman modern yang dapat dikustomisasi sesuai preferensi konsumen. Mereka dapat memilih campuran rasa, kadar gula, jumlah es, dan berbagai tambahan sesuai selera.
Pengalaman membelinya pun dibuat praktis dan menarik. Konsumen dapat memesan melalui kode QR atau aplikasi, lalu mengambil minuman berdasarkan nomor pesanan. Perpaduan rasa yang mudah diterima, variasi menu, dan sistem pemesanan yang unik ini membuat matcha serta teh China cepat menarik perhatian konsumen Indonesia.
Apa yang Membedakan Matcha/Teh China dari Matcha/Teh Jepang?
1. Proses Produksi
Matcha Jepang dan matcha China memang sama-sama berupa teh hijau bubuk yang dikonsumsi bersama seluruh bagian daunnya. Namun, untuk matcha Jepang, daun teh perlu dinaungi selama lebih dari 20 hari sebelum dipanen. Daunnya kemudian dikukus, dikeringkan menjadi tencha, dan digiling dengan batu hingga sangat halus. Proses tersebut menghasilkan warna hijau cerah, tekstur lembut, serta rasa umami yang khas.
Matcha China dapat menggunakan prinsip produksi serupa, tetapi karakter akhirnya lebih beragam karena dipengaruhi wilayah, kultivar, dan metode fiksasi. Penelitian terhadap beberapa wilayah produksi menemukan bahwa sampel dari Guizhou memiliki aroma yang mendekati sejumlah matcha Jepang, sedangkan sampel dari wilayah lain menunjukkan karakter yang berbeda. Dengan kata lain, matcha China memiliki rasa yang bervariasi antar produsen.
2. Proses Pemanasan Daun Teh
Perbedaan paling mudah ditemukan pada teknik pemanasan daun. Sebagian besar teh hijau China menggunakan metode sangrai atau pan-firing untuk menghentikan oksidasi. Teknik ini dapat menghasilkan aroma bunga, kacang panggang, atau nuansa bakar yang lembut. Ada narasi yang mengatakan bahwa proses pan-firing di China ini menggambarkan keseimbangan dari lima elemen, yaitu: kayu, air, tanah, logam dan api. Sebaliknya, teh hijau Jepang umumnya dikukus sehingga rasanya cenderung lebih segar dan menonjolkan rasa umami.
Kesimpulan
Popularitas matcha yang melonjak secara global juga membawa tantangan baru. Produksi matcha Jepang sedang tertekan oleh perubahan iklim, pasokan terbatas, dan lonjakan permintaan global, sehingga matcha makin sulit ditemukan dan harganya meningkat. Kondisi tersebut membuat pilihan dari berbagai negara semakin banyak bermunculan, termasuk matcha dan teh China.
Namun, bertambahnya pilihan juga menegaskan bahwa tidak semua matcha menawarkan pengalaman yang sama. Matcha Jepang memiliki identitas kuat dari bahan tencha, proses peneduhan dan pengukusan, tekstur halus, serta rasa umami yang khas.
Sementara itu, karakter matcha China lebih beragam karena dipengaruhi daerah tanam, varietas daun, durasi peneduhan, dan metode pengolahannya. Meski demikian, matcha China berkualitas tinggi dapat memiliki karakter yang mendekati matcha Jepang.
Perbedaan juga terlihat pada teh hijau. Teh Jepang umumnya dikukus sehingga berwarna lebih cerah serta memiliki rasa segar dan umami. Sementara itu, teh China biasanya disangrai sehingga menghasilkan warna seduhan yang lebih kekuningan dengan aroma bunga, kacang, atau nuansa panggang.
Kalau kamu ingin menikmati matcha berkualitas tinggi, baik matcha Jepang atau China, Bubuk Matcha ITO EN bisa jadi pilihan sebab dibuat dari 100% matcha tanpa tambahan pewarna maupun perisa. Produk ini dapat digunakan untuk membuat minuman, matcha latte, maupun berbagai olahan makanan.
Karakter teh Jepang juga dapat dinikmati melalui pilihan ITO EN lainnya seperti ITO EN Oi Ocha. Selain Oi Ocha, ITO EN juga memiliki berbagai varian teh khas Jepang lainnya, seperti Oolong Tea, Hojicha, Jasmine Green Tea, dan Barley Tea.
Kesimpulannya, Jepang dan China sama-sama memiliki tradisi serta karakter teh yang berbeda. Perbedaan negara asal biasanya tercermin dalam cara budidaya dan pengolahannya, tetapi kualitas akhir tetap bergantung pada bahan baku, daerah tanam, standar produksi, kesegaran, dan cara penyajian.
