Ultra-processed food (UPF) adalah produk pangan yang diformulasikan melalui proses industri kompleks dan umumnya mengandung banyak bahan tambahan seperti perisa, pewarna, pemanis buatan, pengawet, dan penstabil.
Menariknya, tidak semua UPF selalu terasa manis atau asin, lho! Bahkan, ada beberapa produk dengan klaim no sugar atau 0 kalori yang bisa termasuk kategori UPF. Beberapa di antara contohnya seperti minuman diet, soda tanpa gula atau minuman energi tanpa gula.
Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk memahami ciri-ciri UPF dan lebih cermat membaca label komposisi. Simak contoh-contohnya berikut ini.
1. Makanan cepat saji (fast food)
Perlu dicatat bahwa istilah makanan cepat saji dalam konteks NOVA merujuk pada produk industri yang termasuk kategori ultra-processed food (UPF). Ini berbeda dengan makanan yang disajikan cepat seperti warteg atau rumah makan Padang, yang biasanya terbuat dari bahan segar dan masuk kelompok makanan olahan minimal.
Dalam sistem klasifikasi NOVA, suatu produk dikategorikan sebagai ultra-processed food (UPF) bukan berdasarkan jenis makanannya, tetapi berdasarkan komposisi, formulasi, dan tujuan pengolahannya.
NOVA mendefinisikan UPF sebagai produk yang umumnya dibuat dari bahan hasil ekstraksi atau turunan pangan (seperti pati termodifikasi, minyak terhidrogenasi, protein terisolasi), ditambah berbagai aditif seperti pengawet, pewarna, pemanis buatan, pengemulsi, dan penstabil. Produk ini biasanya dirancang untuk praktis, terasa lezat, dan memiliki daya simpan panjang.
Selain komposisi, NOVA juga menyoroti proses industri multi-tahap sebagai ciri penting UPF. Pada fast food berbasis produk industri, misalnya, makanan sering melalui tahap pemisahan komponen bahan, pencampuran dengan zat pengikat dan aditif, pembentukan ulang, pre-frying, pembekuan, hingga pemanasan ulang saat penyajian.
Proses intensif ini membuat produk lebih stabil dan konsisten, namun struktur alami bahan pangan umumnya sudah berubah signifikan dibandingkan bentuk aslinya.
Baca juga: Makanan dan Minuman dengan Kandungan Hidden Sugar yang Perlu Diwaspadai
2. Minuman bersoda dan minuman kemasan
Tak hanya makanan, minuman bersoda dan beberapa minuman kemasan juga termasuk Ultra-Processed Food (UPF). Menurut Cleveland Clinic, minuman ini dikategorikan UPF karena mengandung berbagai bahan tambahan industri seperti pemanis buatan, perasa, pewarna, dan pengawet, serta melalui proses produksi panjang untuk memperpanjang masa simpan dan menstandarkan rasa. Konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolik.
Selain minuman dengan rasa manis, minuman dengan klaim tanpa gula pun belum tentu bebas UPF. Contohnya soda diet, air rasa kemasan, dan minuman energi tanpa gula yang tetap mengandung pemanis buatan serta aditif lainnya.
Baca juga: Batas Aman Konsumsi Gula untuk Anak-anak
3. Snack kemasan
Snack kemasan seperti keripik, biskuit, kukis, dan camilan siap makan termasuk dalam kategori makanan ultra‑olahan karena mereka biasanya dibuat sebagai formulasi industri dengan banyak bahan tambahan yang tidak umum dalam masakan rumahan, seperti pemanis buatan, pengawet, pewarna, dan penguat rasa.
4. Roti dan kue instan
Roti dan kue instan masuk dalam kelompok 4 pada klasifikasi NOVA. Menurut artikel Sugar Nutrition Resource Center, roti massal dan kue kemasan termasuk dalam kategori ini karena terbuat dari banyak bahan industri dan melalui tahap pemrosesan industri yang kompleks, sehingga meskipun praktis dan tahan lama, kandungan nutrisinya cenderung lebih rendah dibandingkan produk minimal olahan.
Baca juga: Gula vs. Lemak: Apa yang Lebih Berpengaruh pada Berat Badanmu?
5. Sosis, nugget dan daging olahan
Makanan yang sering dikonsumsi sebagai lauk anak-anak, seperti sosis, nugget, dan daging olahan, ternyata juga termasuk Ultra-Processed Food (UPF). Menurut artikel dari Cleveland Clinic, produk ini dikategorikan UPF karena diproduksi secara industri dengan banyak bahan tambahan yang tidak digunakan dalam masakan rumah tangga, seperti pengawet, emulsifier, pewarna, dan perasa buatan.
Selain itu, proses pembuatannya melalui tahap-tahap kompleks, yang membuat produk lebih praktis dan tahan lama tetapi juga mengurangi kandungan nutrisi asli dibandingkan daging segar atau olahan sederhana.
Baca juga: Kecanduan Gula: Penyebab, Risiko, dan Solusi
Tips Membaca Label Komposisi untuk Mengenali UPF
Karena tidak semua UPF mudah dikenali dari tampilan atau klaim kemasan, membaca label komposisi menjadi langkah penting. Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan:
- Produk UPF umumnya memiliki komposisi yang terdiri dari beberapa bahan di luar bahan yang mudah ditemukan di dapur (contohnya di luar garam, gula, cuka makan, merica, jahe, baking soda).
- Mengandung berbagai aditif seperti pemanis buatan, perisa, pewarna, pengemulsi, penstabil, atau pengawet.
- Menggunakan istilah bahan industri seperti pati termodifikasi, protein terisolasi, atau minyak terhidrogenasi.
- Produk lebih berupa formulasi daripada bahan pangan asli
Intinya, semakin kompleks formulasi suatu produk, umumnya semakin tinggi tingkat pengolahannya.
Sekarang kamu sudah tahu kan apa saja contoh ultra-processed food (UPF)? Yuk, mulai kurangi atau hindari konsumsi makanan dan minuman ini supaya tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai risiko penyakit!
Jangan lupa bagikan artikel ini ke keluarga dan sahabatmu! Ikuti juga akun sosial media kami di Instagram, X, TikTok, Facebook, dan YouTube ITO EN Indonesia untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai produk unggulan dari ITO EN.
