Kesalahan Intermittent Fasting yang Sering Dilakukan, Bisa Menghambat Hasil Diet!

Baru pertama kali mencoba intermittent fasting, tapi tubuh justru terasa lemas dan kurang bertenaga? Bisa jadi ada beberapa kesalahan yang tanpa disadari kamu lakukan selama menjalani pola makan ini.

Alih-alih membantu menurunkan berat badan, kebiasaan yang kurang tepat justru dapat menghambat hasil diet. Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Kesalahan Intermittent Fasting

Menurut salah satu artikel kesehatan di Mayo Clinic Health System ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat menjalani intermittent fasting, simak berikut ini!

1. Jendela makan terlalu sempit

Bagi kamu yang baru memulai diet viral intermittent fasting ini, langsung berpuasa dengan jendela makan pendek (misal 8 jam sehari) bukanlah strategi yang tepat.

Jendela makan yang terlalu sempit dapat menyulitkan tubuh untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral harian. Sebaliknya, jendela makan panjang (misal >10 jam sehari atau makan normal 3 kali sehari) lebih ramah untuk pemula karena tubuh punya cukup waktu untuk asupan nutrisi.

Jika tubuh belum siap beradaptasi, kondisi ini bisa menyebabkan kelelahan, insomnia, mual, sembelit, hingga sakit kepala.

Baca juga: Cara Minum Teh Hijau yang Tepat untuk Mendapatkan Manfaat Maksimal

2. Terlalu minim cairan

Cairan tubuh tetap perlu dipenuhi saat menjalani intermittent fasting. Selama puasa intermittent fasting, kamu boleh minum air putih, teh, kopi tanpa gula, atau minuman lainnya yang rendah kalori. Hal ini untuk menghindari dehidrasi parah yang yang memicu masalah kesehatan bagi dirimu.

3. Makan berlebihan selama jendela makan

Saat menjalani intermittent fasting, salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah makan berlebihan selama jendela makan.

Sebagai gambaran,  rata-rata kalori harian untuk orang dewasa adalah sekitar 2.500 kalori untuk pria dan 2.000 kalori untuk wanita.

Saat melakukan intermittent fasting, jumlah kalori yang dikonsumsi bisa berkurang, misalnya pada alternate-day atau 5:2 fasting (5 hari makan normal, dan 2 hari puasa), hari puasa biasanya hanya <500 kalori, sedangkan pada time-restricted fasting kalori tetap normal tapi dibagi ke dalam jendela makan yang lebih pendek.

Penting untuk tidak sampai mengonsumsi kurang dari 1.200 kalori per hari secara terus-menerus karena bisa menimbulkan malnutrisi dan masalah kesehatan.

Baca juga: Apa itu Mindful Eating? Ini Tips Menghindari Mindless Eating

Panduan Intermittent Fasting bagi Pemula

Lalu bagaimana sebaiknya menjalankan intermittent fasting bagi pemula? Cari  tahu panduannya berikut ini!

1. Mulai dari metode yang paling ringan dulu

Menurut salah satu artikel kesehatan di website Healthline, sebaiknya kamu memulai diet intermittent fasting (IF) dengan metode yang paling ringan dulu.

Bisa dari metode 16:8 (puasa selama 16 jam dan makan hanya dalam jendela 8 jam dalam satu hari), jika tubuh terasa nyaman dan tetap bertenaga berulah mencoba metode yang lebih lanjut secara bertahap. Ingat, kunci utama IF adalah konsistensi, bukan ekstrem.

2. Konsumsi makanan yang tinggi protein

Intermittent fasting dengan asupan protein tinggi dapat membantu kamu merasa kenyang lebih lama dan mengurangi nafsu makan menurut pernyataan di artikel berjudul Intermittent Fasting with Protein Pacing More Effective for Weight Loss. Hal ini terjadi karena protein memiliki efek termogenik yang membuat kenyang lebih lama.

3. Tetap penuhi cairan tubuh

Terakhir, tetap penuhi cairan tubuh saat menjalankan diet IF. Menurut salah satu artikel kesehatan di website Fastic, air penting dalam intermittent fasting karena menjaga tubuh tetap terhidrasi selama puasa, ketika tubuh tidak mendapatkan cairan dari makanan.

Tenang saja, air putih aman dikonsumsi saat puasa karena tidak mengandung kalori, sehingga tidak memicu respons insulin. Selain itu, minum air yang cukup juga dapat meningkatkan resting energy expenditure (REE) yang berpotensi membantu proses penurunan berat badan.

Intermittent Fasting dan Puasa Ramadhan

Intermittent fasting (IF) adalah pola makan yang berfokus pada pengaturan waktu makan, bukan jenis makanan. Dalam praktiknya, IF membagi hari menjadi periode puasa (fasting window) dan jendela makan (eating window).

Jika menjalani puasa Ramadhan, secara mekanisme tubuh seseorang tetap mengalami periode tanpa asupan kalori dari fajar hingga berbuka. Dari perspektif pola makan, kondisi ini memiliki kemiripan dengan konsep time-restricted eating, yang merupakan bagian dari intermittent fasting.

Namun, puasa Ramadhan memiliki ketentuan waktu yang sudah ditetapkan, sehingga pola IF tidak bisa diterapkan secara kaku. Dalam kata lain, puasa Ramadhan sendiri sudah menciptakan pola fasting alami, sehingga IF tidak perlu diterapkan lagi secara terpisah. Fokus yang lebih penting adalah menjaga hidrasi, memastikan asupan nutrisi cukup saat berbuka dan sahur, serta memperhatikan kenyamanan tubuh.

Jadi, bagaimana? Apakah kamu tertarik mencoba diet intermittent fasting? Jangan lupa, selama menjalani intermittent fasting, tetap penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan air putih ,ya. Selain air putih, kamu juga bisa menyelinginya dengan Oi Ocha sebagai alternatif. Karena nggak manis dan 0 kalori, teh hijau ini cocok untuk menemani gaya hidup sehatmu.

oi ocha ito en botol

Oi Ocha dibuat dari bahan alami pilihan, tanpa gula dan tanpa pemanis buatan sehingga nggak manis dan 0 kalori. Diproses menggunakan 100% daun teh hijau impor dari Jepang, Oi Ocha menghadirkan rasa autentik dengan aroma khas daun teh Jepang sekaligus manfaat antioksidan yang tinggi.

Jangan lupa bagikan artikel ini ke keluarga dan sahabatmu! Ikuti juga akun sosial media kami di Instagram, X, TikTok, Facebook, dan YouTube ITO EN Indonesia untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai produk unggulan dari ITO EN.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *