Ngabuburit sudah jadi tradisi khas masyarakat Indonesia menjelang waktu berbuka. Gorengan, es dawet, es oyen, kolak, hingga aneka jajanan musiman hampir selalu jadi incaran. Rasanya memang menggoda, apalagi karena sebagian besar hanya muncul saat bulan Ramadan.
Namun, di balik kelezatannya, jajanan berbuka umumnya mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Padahal selama berpuasa, kadar gula darah dalam tubuh sudah berada pada kondisi rendah. Jika tidak dikonsumsi dengan bijak, lonjakan gula darah justru bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan.
Lalu, bagaimana cara mengonsumsi gula secara lebih bijak saat puasa? Simak penjelasannya berikut ini
Pengaruh Puasa terhadap Kadar Gula Dalam Tubuh
Saat berpuasa, asupan gula dari makanan otomatis berkurang (Medical News Today). Kondisi ini membuat pankreas melepaskan hormon glukagon, yang berfungsi memberi sinyal pada hati untuk melepaskan cadangan gula yang tersimpan dalam bentuk glikogen. Tujuannya adalah menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Cadangan glikogen ini biasanya hanya mencukupi kebutuhan energi selama 8–12 jam pertama puasa. Setelah itu, tubuh akan beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi utama.
Karena itu, konsumsi makanan berlebihan, terutama yang tinggi gula, saat berbuka dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis. Kondisi ini perlu lebih diwaspadai oleh penderita diabetes atau mereka yang memiliki resistensi insulin.
Fun fact: Kadar gula darah puasa yang normal berada di kisaran 70–99 mg/dL, diukur setelah tidak mengonsumsi makanan selama minimal 8 jam.
Baca juga: Tips Jaga Asupan Gula saat Berpuasa
Agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari lonjakan gula darah yang berlebihan, berikut beberapa cara bijak mengonsumsi sesuatu yang manis selama bulan puasa:
1. Tidak Mengonsumsi Makanan dalam Jumlah Besar Sekaligus
Gula memang dibutuhkan tubuh setelah berpuasa seharian. Namun, mengonsumsinya secara berlebihan dalam waktu singkat justru bisa membuat tubuh ‘kaget’.
Oleh karena itu, sebaiknya buka puasa dilakukan secara bertahap, mulai dari porsi kecil, lalu dilanjutkan secara perlahan hingga beberapa jam sebelum tidur.
2. Memilih Menu yang Tepat Saat Sahur dan Berbuka
Menurut akun YouTube DRV Channel, untuk menjaga kadar gula darah selama berpuasa, kamu bisa mengonsumsi makanan dengan kandungan karbohidrat kompleks, serat dan protein tinggi supaya kenyang tahan lama dan kebutuhan gizi tercukupi. Contohnya nasi merah, tahu, tempe, daging, dan sayuran dengan porsi seimbang.
Adapun saat berbuka, makanan manis memang dianjurkan untuk membantu mengembalikan energi. Namun, sebaiknya dimulai dari makanan yang tinggi serat juga. Contoh makanan manis yang tinggi serat adalah kurma (juga tinggi mineral) dan pisang. Tingkat kemanisannya juga perlu diperhatikan agar tidak memicu lonjakan gula darah yang terlalu tinggi.
Baca juga: Less Sugar vs No Sugar vs Unsweetened: Lebih Baik Pilih Mana?
3. Mengurangi Konsumsi Minuman Manis
Hindari mengonsumsi makanan dan minuman manis secara bersamaan. Jika harus memilih, maka pilihlah minuman yang tidak manis. Tidak semua minuman harus manis untuk bisa dinikmati. Mengurangi minuman manis dapat membantu menjaga berat badan, menstabilkan gula darah, dan membuat tubuh terasa lebih ringan saat berpuasa.
Sebagai alternatif, kamu bisa memilih air putih dingin, es kelapa muda tanpa gula, atau teh tawar yang kalorinya hampir 0. Minuman-minuman ini tetap menyegarkan tanpa tambahan gula berlebih.

Nah, kalau kamu ingin menikmati teh tanpa gula dan pemanis buatan dengan rasa teh yang benar-benar asli, otentik, dan segar, ITO EN Oi Ocha bisa jadi pilihan. Tidak manis dan 0 kalori, teh ini terasa menyegarkan, sehingga pas diminum saat berbuka maupun setelah beraktivitas
Jangan lupa, bagikan juga artikel ini ke keluarga dan sahabatmu ya! Ikuti juga akun sosial media kami di Instagram, X, TikTok, Facebook, dan YouTube ITO EN Indonesia untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai produk unggulan dari ITO EN.
