Beberapa tahun terakhir, dunia seperti dilanda “boom matcha”. Mulai dari kafe kekinian di Jakarta, hingga restoran-restoran di Eropa menyediakan berbagai menu dengan varian matcha. Media sosial pun ikut mendongkrak tren ini. Kini, orang-orang mulai membuat matcha sendiri di rumah. Tidak jarang, para pecinta matcha bahkan rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah demi menemukan matcha dengan kualitas terbaik.
Tren ini tentu disambut baik oleh industri teh Jepang sebagai “kampung halaman” matcha. Namun siapa sangka, dibalik popularitasnya yang meningkat, ada kelangkaan yang mengancam. Bahkan beberapa toko di Jepang mulai membatasi pembelian matcha. Mengapa hal ini bisa terjadi? Simak lengkapnya di sini.
Penyebab Kelangkaan Matcha:
1. Permintaan Global yang Meningkat Drastis
Popularitas Matcha di luar Jepang, membuat permintaan matcha meningkat pesat. Menurut data dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF), ekspor matcha meningkat sebesar 25% selama lima tahun terakhir. Restoran, kafe, brand makanan dan minuman, serta para pecinta matcha berburu berbagai jenis matcha.
2. Hasil Panen Bahan Baku Matcha yang Terbatas
Hasil panen bahan baku untuk matcha terutama matcha grade ceremonial tidak bisa ditingkatkan secara signifikan. Ini dikarenakan ladang yang menghasilkan bahan baku matcha (tencha) adalah ladang yang sama untuk menghasilkan bahan baku teh hijau (sencha, ryokucha, atau ocha). Dengan kata lain, tidak mungkin ladang tersebut mengorbankan 100% panen daun teh hijau demi mengubahnya menjadi 100% panen tencha. Sedangkan untuk perluasan ladang baru membutuhkan waktu yang lama. Hal ini diperparah dengan makin sedikitnya petani daun teh di Jepang yang kebanyakan sudah lansia (generasi muda di Jepang memilih bekerja di kota).
3. Mesin Penumbuk Matcha Terbatas
Tahukah kamu, matcha ada yang masih digiling menggunakan mesin batu tradisional? Mesin ini bergerak sangat pelan dan hanya menghasilkan 400 gram bubuk matcha setiap delapan jam. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas bubuk matcha, meskipun artinya produksinya harus terbatas. Kalaupun sekarang Jepang sudah menggunakan teknologi baru untuk menghaluskan tencha menjadi bubuk matcha, mesin-mesin tersebut tidak bisa dioperasikan terlalu cepat karena sesuai dengan hukum alam proses penghalusan yang terlalu cepat akan menimbulkan panas. Panas ini akan mengubah aroma dan rasa matcha.
4. Cuaca Ekstrem di Jepang
Kondisi iklim ikut memperparah kelangkaan matcha terutama di tahun 2025. Gelombang panas ekstrem musim panas sudah merusak hasil panen tencha sejak April. Bahkan, seorang petani lokal mengalami penurunan panen sebesar 25%.
Apa yang Akan Terjadi Apabila Kelangkaan Matcha Terus Terjadi:
1. Harga Matcha Melambung Tinggi
Harga matcha yang meningkat pesat sebenarnya sudah mulai terjadi, dilansir dari Kompas, harga tencha sudah mengalami kenaikan sebesar 69,4%. Jika hal ini terus terjadi, maka matcha, terutama grade ceremonial dan premium akan semakin sulit dijangkau oleh konsumen biasa. Para petani di Jepang mulai tahun 2025 sudah banyak memproduksi tencha dan mengurangi output produksi sencha (daun teh hijau biasa). Akibatnya sencha pun sekarang sudah langka dan harganya ikut naik 1.3-3 kali lipat.
2. Pembelian Matcha Sudah Dibatasi
Beberapa ritel di Jepang, terutama di Kota Uji yang merupakan salah satu kota kelahiran matcha, mulai membatasi pembelian matcha terutama terhadap turis-turis asing. Hal ini dikarenakan banyaknya konsumen yang membeli matcha dalam jumlah besar. Bahkan, pasar matcha diperkirakan akan terus tumbuh dua kali lipat pada tahun 2028, jadi kemungkinan besar pembatasan pembelian matcha ini masih akan berlangsung di Jepang.
3. Kualitas Terganggu
Jika kelangkaan terjadi, produsen tidak mampu untuk memenuhi permintaan pasar, maka bukan tidak mungkin akan bermunculan berbagai ‘matcha imitasi’ di pasaran, dengan kualitas yang tidak terjamin mutunya. Matcha imitasi yang dimaksud misalnya bubuk teh hijau (konacha) atau bubuk lain yang ditambahkan perisa buatan matcha (matcha artificial flavor).
Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Melewati Krisis ini?
1. Bijak dalam Mengonsumsi
Jangan FOMO! Matcha terutama grade ceremonial, bukanlah minuman yang harus dikonsumsi setiap hari. Orang Jepang sangat jarang mengonsumsinya. Bahkan komunitas upacara teh di Jepang diperkirakan hanya 1% dari total populasi. Jika ITO friENd ingin meminum matcha dengan campuran susu, sebaiknya ITO friENd bisa mencoba matcha grade premium. Menghargai setiap matcha yang diminum artinya juga menjaga keberlanjutannya.
2. Membeli Matcha dari Negara Lain
Meskipun Jepang adalah “rumah” bagi matcha, tapi ada lho, negara lain yang juga memproduksi matcha seperti China, Korea Selatan, Taiwan, India dan Vietnam. Meskipun rasa dan aromanya tidak persis sama dengan matcha Jepang, tapi setidaknya bisa menjadi alternatif dan masing-masing punya ciri khas yang menjadi daya tarik tersendiri.
3. Tidak Membeli Matcha Secara Berlebihan
Selain karena kelangkaan, pada dasarnya matcha adalah produk yang sensitif terhadap suhu, cahaya dan udara. Matcha yang disimpan—terutama dalam udara terbuka, dapat mengalami oksidasi. Belilah matcha secukupnya, dengan begitu ITO friENd sudah berperan dalam keberlangsungan matcha.
4. Mencoba Varian Teh Hijau Lain
Jika ingin mencari dalam bentuk bubuk giling, maka bukan hanya matcha saja. Ada bubuk giling genmaicha, hojicha dan konacha. Selain bubuk giling, ada juga bubuk hasil ekstraksi (tidak meninggalkan endapan, larut sempurna) seperti bubuk ektraksi teh hijau Oi Ocha. Ada juga dalam bentuk teh celup atau daun teh curah. Jika ingin yang lebih praktis, bisa coba minuman teh hijau dalam kemasan siap minum (ready to drink) seperti ITO EN Oi Ocha. Sama-sama kaya akan antioksidan, kafein, dan L-theanine, teh hijau dari ITO EN memiliki manfaat yang kurang lebih sama dengan matcha. Selain itu ITO EN Oi Ocha juga tidak mengandung gula atau pemanis tambahan sehingga 0 kalori dan sangat cocok untuk diet.
Matcha memang minuman yang luar biasa, bukan hanya karena kandungan dan manfaatnya, tapi juga karena proses rumit di baliknya. Namun, popularitas dan mengonsumsi matcha secara berlebihan dapat mengakibatkan kelangkaan. Jadi, sebagai pecinta matcha, mari kita lebih bijak dalam mengonsumsinya, untuk menjaga kelestariannya bagi generasi yang akan datang. Jangan lupa, bagikan juga artikel ini ke keluarga dan sahabatmu ya! Ikuti juga akun sosial media kami di Instagram, X, TikTok, Facebook, dan YouTube ITO EN Indonesia untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai produk unggulan dari ITO EN. 📱
